LENTERA HATI ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Tampilkan postingan dengan label PARENTING KELUARGA. Tampilkan semua postingan

"Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua"




Elly Risman:

Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.
Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orangtua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi seorang ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara ayah si Fulan dulu mendidik  dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah-lembut,  biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara lemah-lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan,  biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara kekerasan pula. Jadi terjadi semacam pewarisan cara mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudaranya, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifannya belajar dari lingkungan sosialnya itu.
Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orangtua lain yang cuek, tak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan instink dan pelajaran dari orangtuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan.  
Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang Muslimah terdidik yang membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya.  
Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet,  telepon seluler, dan media cetak.  
Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.  
Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.  
Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.  
Elly Risman adalah satu dari jutaan orangtua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian berketetapan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan.
 Bersama sejumlah kawan dekatnya, antara lain Neno Warisman, Erry Sukresno, Hidayat Achyar, dan Tommy Sutomo, pada tahun 1998 Elly mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH).             
Melalui yayasan tersebut Elly mengajak para orangtua untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang seharusnya, sehingga kualitas pengasuhan anaknya menjadi semakin baik.  Dan jika ada kekeliruan selama ini dapat diperbaiki. "Kami siap membantu orangtua yang mau berubah," jelas wanita kelahiran Aceh Barat ini.
Menurutnya, selama ini orangtua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari. "Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya," jelasnya. 
Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. "Orangtua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang di sana juga banyak bermuatan informasi negatif," tambahnya.
            Kegiatan YKBH secara garis besar ditujukan untuk orangtua, remaja  dan anak-anak. Kegiatan tersebut berbentuk  workshop dan pelatihan parenting (pengasuhan dan pendidikan anak),  serta pelayanan konsultasi untuk pribadi, keluarga, pasangan dan anak-anak.
YKBH juga membuka program pelatihan untuk anak-anak agar siap menghadapi tantangan hidupnya yang semakin berat.  Untuk mendukung program itu, sejak tiga tahun lalu Elly merekrut 30 anak-anak muda, mahasiswa, sarjana yang baru saja lulus, dan psikolog muda. Mereka dilatih selama hampir enam bulan untuk menjadi konselor bagi rekan sebayanya dan anak-anak.
Jika yang menyampaikan orang muda, diharapkan komunikasi antara pelatih dan yang dilatih lebih lancar, terutama dalam membincangkan soal seksual. "Ternyata memang benar, kepada kakak pelatih yang muda-muda itu anak-anak jadi lebih terbuka mengemukakan pertanyaan dan pendapatnya," terangnya.
Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul Ulum, Saiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung di kantornya, Elly memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?
Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami-istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?

"Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayangan porno dari televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan dari pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya," papar Elly.

Selanjutnya Elly  berbicara panjang lebar kepada majalah Hidayatullah tentang gawatnya ancaman yang mengintai anak-anak kita, "Karena anak-anak Indonesia sekarang sudah dijadikan komoditi industri seks internasional."

Lantas apa yang harus dilakukan para orangtua Indonesia? Silakan simak pendapat selanjutnya berikut ini:
                                                                                 
Melihat problema yang dihadapi remaja kita saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya ya?
Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV.  Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.

Seberapa besar kesalahan orangtua menghadapi anak?
Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka perlu informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.
Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?
Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.

Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?
Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus.  Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.
Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka  membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya "memanah" dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.
Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.

Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?
Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.
Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, "Kamu perlu, jangan sok alim." Lalu, harga diri. "Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan." Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. "Lama amat, sini Mama bantuin!" Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. "Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik". Emosinya dibuat jadi kacau.

Bagaimana supaya orangtua menyadari hal itu?

Mereka harus mau belajar menjadi orangtua yang baik. Selama ini kan berjalan alami dan turun-temurun. Mana ada sekolah bagi calon orangtua di kalangan umat kita. Padahal di kalangan Nasrani jika seseorang ingin mendapatkan ijin menikah dari gereja, syaratnya harus lulus pelatihan pernikahan selama 6 bulan. Jika tidak lulus, maka ia tidak diijinkan menikah di gereja.

Apakah seharusnya kita juga seperti itu?

Iya, kita seharusnya juga punya Islamic parenting school (sekolah Islam non formal untuk mendidik menjadi orangtua yang baik). Materinya juga sudah jelas. Islam memiliki materi yang sangat lengkap menyangkut  keluarga. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahma. Misalkan, ketika orangtua menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak, ya kita kembalikan pada agama. Prinsipnya, kalau kita tahu jangan anak disuruh belajar pada orang lain. Makanya yang namanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Jadi orangtua mesti banyak mendengar.
Bagaimana cara YKBH melakukan pelatihan pendidikan seks pada anak sekolah?
Setelah diberi pelatihan lalu disuruh membuat pertanyaan apa saja. Setelah itu dilihat mana pertanyaan dari anak yang sudah tahu seks dan yang belum. Pada pertemuan berikutnya anak-anak yang sudah tahu dipisahkan dengan anak yang belum tahu. Tidak bisa dicampur. Istilahnya kita beri kelas khusus pada mereka yang tahu dan ingin tahu. Pada kenyataannya, memang justru kelas yang khusus itulah yang banyak diminati. Pada kelas ini, pertanyaannya sudah dahsyat-dahsyat. Anak-anak tak segan-segan menanyakan soal seks. Padahal seharusnya saya ini kan seusia dengan neneknya. Toh mereka berani.

Pendidikan seks bagaimana yang baik untuk anak?
Pendidikan seks itu ada dua, kalau terlalu terbuka seperti di Amerika juga berbahaya. Tapi, disembunyikan juga salah. Diberi informasi itulah yang penting. Jika ada pertanyaan tentang seks, orangtua harus memiliki kiat-kiatnya. Yaitu tenang, self control, dan take it easy. Yang kedua, cek pemahamannya.  Jangan-jangan si anak lebih tahu, mereka cuma ngetes. Kalau merasa kaget, katakan, "Saya tidak pernah mikir." 
Nah, ketiga langkah ini membuat suasana tenang, tidak reaktif dan punya kesempatan berpikir menjawab atau tidak. Poin selanjutnya, beri jawaban yang terbaik plus norma agama. Jadi, dari kecil iman dan syariah itu sudah masuk dalam diri anak-anak. Di sinilah perlunya pelatihan bagi calon orangtua dan orangtua, agar memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi anak-anaknya.

 Sumber: www.hidayatullah,com (Majalah Hidayatullah edisi September 2006)

Learn more »

. Ayah, Cerdaskan Motorik & Kognitif Anak




Ayah dan ibu punya peran besar dalam meningkatkan perkembangan anak. Sayangnya, terutama ayah, tak mau memahami benar peran serta dampaknya yang begitu besar, sehingga lebih menyerahkan urusan anak pada ibu. Apa sih peran besar ayah, benarkah jika ayah benar-benar terlibat dengan anak akan berpengaruh pada kecerdasan motorik dan perkembangan kognitifnya. Mengapa?

Budaya telah membentuk posisi, tanggung jawab dan hak orangtua yang tidak setara. Bahkan kultur Indonesia, menurut sosiolog Irwanto Abdillah, tegas-tegas menggariskan pembagian tugas yang kaku antara ayah dan ibu. Ayah adalah simbol pemegang kekuasaan dalam keluarga, sedang ibu menjadi pengurus rumahtangga, termasuk kewajiban mengurus si kecil.

Sampai saat ini budaya tersebut masih mencengkeram kita. Masih banyak lho ayah yang merasa tabu mengurus anak, seperti mengganti popok atau mengajak buah hatinya bermain. Masih relevankah jika budaya itu dipertahankan ayah masa kini? Sebenarnya, kata Irwanto, bukan persoalan relevan atau tak relevan. Peran ayah dan ibu punya pengaruh yang sama besarnya terhadap anak.

Ini dibuktikan penelitian oleh para peneliti Barat, bahwa pada ayah dan ibu, anak belajar banyak hal secara berbeda. Pada ibu misalnya, anak mempelajari kelembutan, kontrol emosi, dan kasih sayang. Sedang pada ayah, anak belajar ketegasan, sifat maskulin, kebijaksanaan, dsb.
Lebih dari itu, perkembangan kemampuan seorang anak, baik kemampuan motorik serta perkembangan intelegensinya, dipengaruhi oleh pola asuh, dalam hal ini ibu dan ayah. Jika ada kekurangan dalam peran ayah, maka perkembangan anak pun tidak optimal.

Pengaruhi Kinestetik dan Kognitif
Menurut para pakar perkembangan, ayah yang menjalankan perannya secara maksimal, berpengaruh pada peningkatan kecerdasan motorik dan kognitif anak. Mengapa? Jika ayah bersama si kecilnya, biasanya ia melakukan hal-hal yang khusus-yang mungkin tak dilakukan ibu dengan si kecil. Misalnya, bermain kuda-kudaan (ayah jadi kuda anak jadi penunggang), bermain bola (sepak bola, lempar bola, dsb), bermain perang-perangan atau bermain jago silat, dan beberapa 'permainan keras' lainnya, maka anak pun otomatis melatih motorik kasarnya. Bagaimana menangkap atau menendang bola, berpegangan erat, menonjok atau memukul pura-pura, dsb., akan mengeraskan tulang sekaligus meluweskan fungsi gerak anak.

Begitupula pengaruhnya pada perkembangan intelegensi. Umumnya ayah memiliki gambaran orang yang punya banyak pengetahuan. Kemungkinan ayah ke luar rumah untuk bekerja atau membina relasi lain, jarangnya bertemu, serta 'otoritas' yang diperlihatkan di rumah, membuat anak merekam bahwa ayah adalah figur yang luar biasa dana membuatnya kagum. Figur yang demikian di mata anak, bila dekat dengannya, membuat anak 'lebih terbuka' menerima masukan dan penjelasan dari ayah, sehingga mengasah perkembangan kognitifnya lebih optimal.
Bukan berarti ibu tak punya pengaruh pada perkembangan kognitif ayah. Hanya saja, dengan ibu anak cenderung bertemu setiap hari, terlibat sehari-hari, bahkan ibu cenderung cerewet dana teliti. Secara psikologis, kata Irwanto, anak dekat dengan ibu tetapi sekaligus juga mengambil jarak.

Bukan Hanya Dekat Fisik
Memang, banyak ayah yang secara fisik dekat dengan anaknya. Bertemu setiap hari, menyapa atau menegur anak, berbicara seperlunya atau menemani belajar seperlunya, cukupkah?

Idealnya, ayah dan ibu bisa dekat dengan anak secara fisik dana emosi. Kedekatan tersebut, kata Winarini Ph.D, psikolog, membantu anak untuk berkembang dengan baik.

Kedekatan fisik dan emosional umumnya terjalin baik antara ibu dan anak. Antara ayah dan anak? Sungguh jarang terjadi. Untuk dekat dengan si kecilnya, kata Winarini, ayah lah yang harus mendekatkan diri. Sejak anak masih kecil, ayah sebaiknya turut serta melakukan tugas merawat. Sentuhan langsung dari ayah kepada anak lewat berbagai kegiatan kegiataan, akan membangun hubungan emosional antara ayah dan anak. Pada akhirnya akan terjalin Komunikasi antara keduanya.
Komunikasi yang lancar antara ayah-ibu-anak akan menyelamatkan si kecil dari pengaruh luar yang negatif. Anak tak perlu mencari pelampiasan di luar rumah karena ia memperoleh limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Anak pun tak perlu keluar rumah untuk memecahkan masalahnya lantaran ayah dan ibunya siap mendengar keluh-kesahnya.

Bagi sebagian ayah, terlibat dalam mengasuh dan mendidik anak memang bukan peran yang mudah. Apalagi, kata Irwanto, sosok ayah di masyarakat Indonesia dilukiskan sebagai sosok yang perlu ditakuti.
Akan tetapi, jika Anda ingin si kecil lebih baik perkembangan motorik, kognitif, serta jauh dari pengaruh negatif, mau tidak mau, ayah, dekatkanlah peranmu pada anak.
Learn more »

4 Hal Tentang Mendidik Anak



 


  4 Hal Tentang Mendidik Anak

OLEH : M.A MUAZAR HABIBI

Anak adalah anugrah yang mahal bagi setiap orang tua. Sulit ketika 4 Hal Tentang Mendidik Anak
Anak adalah anugrah yang mahal bagi setiap orang tua. Sulit ketika diminta dan tidak bisa ditolak ketika Allah Swt menghendaki kelahirannya. Kehadirannya adalah sebuah rahasia Sang Pencipta, walaupun banyak orang berhasil merencanakan kapan anaknya harus lahir dan kapan tidak melahirkan anak.
Selain sebagai anugrah dari Yang Kuasa, Allah Sang Penentu, anak diberikan kepada para orang tuanya sebagai amanah. Untuk dipelihara, dididik dan dibina menjadi anak-anak yang berkualitas, memiliki kekuatan dan ketahanan sebagai bekal mengarungi hidup di masa dewasanya. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisaa’ : 9)
Anakpun dapat pula menjadi cobaan (fitnah) atau bahkan sebagai musuh bagi kedua orang tuanya, bila anak berkembang tanpa didikan yang baik dan benar. Seperti yang difirmankan Allah Swt: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al Anfaal: 28). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. At Taghaabun: 14).
Oleh karenanya, setiap orang tua harus menyadari betul akan amanah ini. Bahwa anak-anak yang dititipkan Allah kepada kita sesungguhnya harus dididik dan dibina dengan baik sesuai dengan tatacara pendidikan yang disyariatkan Islam dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya, yaitu:
1. Pendidikan yang dilakukan harus berpedoman pada prinsip “Memelihara fitrah anak (Al Muhaafadzoh)”. Maksudnya adalah, segala upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya harus didasarkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), beriman kepada Islam: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Ar Ruum: 30).
Juga dalam hadits Rasulullah Saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi". Untuk dapat memelihara fitrah anak, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan: 1) Memperdengarkan adzan dan iqomat ditelinga anak ketika anak baru lahir, untuk memperkenalkan kepadanya Allah dan Rasul-Nya sejak dini, serta berupaya untuk selalu mengkondisikan anak dalam aturan-aturan Islam dalam perkembangannya 2). Memilihkan teman bermain, yang kita yakini mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, serta menyeleksi dan mengawasi jenis permainannya. 3). Memilihkan lingkungan yang baik, mengingat lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku anak. 4). Memilihkan sekolah dan guru yang baik (Islami) ketika anak mulai memasuki usia sekolah.
2. Pendidikan yang dilakukan harus diupayakan untuk mengembangkan potensi anak (At Tanmiyyah). Menurut berbagai penelitian, diakui bahwa anak memiliki potensi yang luar biasa bila distimulasi dengan baik sejak usia dini, karena perkembangan intelektual anak dapat mencapai masa keemasannya pada usia 0 sampai 2 tahun. Anak juga memiliki keingintahuan yang sangat kuat pada usia-usia tersebut, sehingga sangat memungkinkan untuk memberikan banyak hal di usia dini.
Ada sebuah kisah menarik di Jepang, Ms. Sakane yang seorang wanita karir, berhasil mengajar anaknya dengan hasil yang sangat mengejutkan ketika Okane yang baru berusia 3 tahun 5 bulan memiliki IQ 198 dengan cara selalu menyediakan waktu 30 menit sebelum kerja dan 1 jam sepulang kerja untuk khusus memperkenalkan kepada anaknya berbagai macam benda dari guntingan-guntingan kertas bergambar yang secara rutin dia lakukan setiap hari. (sumber: artikel 3 Tahun Pertama Yang Menentukan: Taufan Surana).
3. Pendidikan yang dilakukan harus bersifat Mengarahkan (At Taujih). Yaitu mengarahkan anak kepada kesempurnaan, mengajarinya dengan berbagai aturan diniyah, tidak menuruti setiap permintaan anak yang kurang baik untuk dirinya baik dimasa kanak-kanak maupun setelah remaja dan dewasa.
Memanjakan anak dengan cara menuruti segala permintaannya bukan hanya akan menjadikan anak bagaikan seorang raja yang titahnya harus selalu dituruti, namun juga akan menjadikan anak bermental diktator.
4. Pendidikan harus dilakukan secara bertahap (At Tadarruj). Mendidik anak harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, tidak tergesa-gesa ingin segera melihat hasilnya, namun harus dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga anak mengerti dan faham apa yang kita ajarkan. Karena mendidik anak bukanlah sekedar membalikkan telapak tangan atau membuat foto Polaroid. Pendidikan adalah sebuah proses yang sangat panjang dan tak berujung.
Terakhir, marilah kita senantiasa bermohon kepada Alloh Swt agar Allah berkenan memberikan kepada kita semua, para orang tua, para guru dan pendidik anak-anak dapat mengemban amanah sebaik-baiknya dan dapat menjadikan anak-anak kita generasi Robbani.
Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun. Waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa (Q.S. Al Furqaan: 74). Aamiin. (Ya Roob kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa). Wallahu 'a’lam bishshowaab.
____________________



Learn more »